GET TO KNOW ME!

Get to Know Me

Marselina Tabita Tumundo is a full-time TV journalist, working in the pioneer of news television channel in the country, Metro TV. Fun fact,...

Showing posts with label Portofolio. Show all posts
Showing posts with label Portofolio. Show all posts

Monday, 8 February 2021

Sewaktu ke Kalimantan Selatan

Banyak jurnalis senior berkata naluri kemanusiaan kita akan sangat berbicara ketika meliput peristiwa bencana. Peliputan bencana sejak awal tentu masuk dalam bucket list saya ketika pertama kali memulai karir sebagai reporter. Selain dibutuhkan ketahanan fisik, berada di lokasi bencana menuntut manajemen emosi yang stabil. Seorang jurnalis sejatinya juga seorang manusia yang memiliki orang tua, saudara, dan sahabat. Lantas, ketika turun ke lokasi bencana dan menyaksikan langsung erangan minta tolong para korban yang kehilangan sanak keluarga, tempat tinggal, dan harta benda, seorang jurnalis dituntut untuk menanggalkan kesedihan dan duka yang tentu turut dirasakannya. Akan tetapi, menanggalkan bukan berarti tidak berempati. Rasa empati itulah yang justru sangat dibutuhkan sebagai pendorong semangat, untuk melihat ruang-ruang yang belum diketahui oleh pemerintah maupun masyarakat di luar lokasi bencana. Seorang senior sempat mengatakan, kita perlu mengambil jarak sejenak dari rasa kesedihan untuk dapat berpikir jernih dalam mengolah informasi menjadi sebuah berita. 

Kesempatan untuk meliput bencana itu datang ketika terjadi banjir besar di Kalimantan Selatan pada Januari 2021. Saya bersama seeorang rekan camera person, Awaludin, ditugaskan untuk meliput selama lima hari. Tidak banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Kami dihubungi sekitar jam 8 malam untuk segera mencari tiket keberangkatan paling pagi keesokan harinya. Belum lagi kami harus mencari layanan tes cepat antigen, yang merupakan salah satu protokol perjalanan luar kota di tengah Pandemi Covid-19 yang masih merebak. Tidak banyak waktu untuk menghiraukan kekhawatiran. Tidak banyak tenaga untuk mengacuhkan ketakutan dan kebingungan. Ini sebuah tugas, yang barangkali menjadi salah satu tugas kemanusiaan yang saya kerjakan seumur perjalanan karir.

Perjalanan peliputan Kalimantan Selatan setidaknya terangkum dalam beberapa laporan ini. Banyak kisah dan cerita di baliknya. Semoga suatu waktu bisa menceritakannya lebih banyak.







Sunday, 10 January 2021

Bakudapa Kawanua Sulut

Ekspedisi kami telah sampai di bagian akhir. Pada episode Bakudapa Kawanua Sulut, kami tidak hanya bertandang ke Kota Manado, tapi juga berkesempatan mengunjungi Kota Bitung dan Kota Tomohon.

Kami memulai perjalanan dari Kota Bitung. Secara geografis, kota bitung berada di titik kilometer nol ujung belalai Pulau Sulawesi. Posisi strategis bitung yang menghadap kawasan Asia Pasifik, menjadikan Kota Bitung sebagai kawasan pelabuhan perikanan terbesar yang berada di utara Pulau Sulawesi.

Selain itu, tim ekspedisi juga mengunjungi daerah dataran tinggi Sulawesi Utara, yakni Kota Tomohon. Di sini, kami melihat pemanfaatan internet bagi para petani kembang untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Perjalanan ekspedisi kami akhiri di Kota Manado, untuk melihat salah satu site Palapa Ring paket tengah. Palapa Ring paket tengah merupakan salah satu proyek strategis pemerintah berupa jaringan interkoneksi bawah laut yang berada di wilayah tengah Indonesia.

===

Berada di Sulawesi Utara terasa terlalu familiar. Di sinilah nenek moyang saya dilahirkan. Namun, seribu sayang, pengenalan saya akan tanah kawanua memang tidak begitu dalam. Tentu ekspedisi ini sekaligus memberikan kesempatan bagi saya untuk temu kangen dengan keramahan budaya yang tidak pernah asing di bawah alam sadar ini.

Saksikan tayangan Bakudapa Kawanua Sulut selengkapnya:


Credits:

Producer/director            : Bayu Noercahyo

Reporter/scriptwriter      : Marselina Tumundo

Camera person                : Deddy Utama

Drone                              : Leonard Lefkas

Production Assistant       : Weynand Simon

Editor                              : Dwi Septiansyah

Photographer                  : Usman Iskandar

Sunday, 13 December 2020

Titik Peradaban Budaya Toraja

“Saya ingin Toraja lebih dikenal seperti Bali. Memang Toraja sudah dikenal tetapi kita masih dikenal dari budaya kematian, itu saja.”

Tak pernah menyangka bisa mengenal Endy Allorante, seorang fotografer keturunan asli Toraja. Rumahnya bahkan masih berada dalam satu komplek desa adat Kete Kesu, Toraja Utara. Itu menunjukkan bahwa si penghuni masuk dalam garis keturunan tokoh adat Toraja yang sangat disegani. 

Memeluk erat budaya leluhur bukan berarti menutup diri dari dunia yang begitu luas. Endy pun memilih untuk tidak berdiam diri. Berbekal lensa kamera dan kemampuan persuasifnya untuk mengumpulkan para pencinta fotografi di Toraja, ia menghasilkan gambar-gambar yang berbicara tentang budaya Toraja.

Lain cerita ketika saya berjumpa dengan Layuk Sarungallo. Ia adalah seorang ketua adat Kete Kesu. Namun, bagi saya, pertemuan yang mungkin hanya sekali seumur hidup itu, seperti perjumpaan seorang keponakan dan paman yang sudah lama tidak bertemu. Keponakan itu sangat terkagum ketika mendengar si paman bercerita tentang perjuangannya mempertahankan prinsip hidup serta warisan dari generasi ke generasi. Filosofi hidupnya sebagai orang gunung begitu terpancang kuat, melebihi kekuatan beton-beton pencakar langit di kota besar. 

Satu hal lagi yang tak terlupakan dari perjalanan ini adalah ketika menghirup kopi Toraja di sebuah kedai sederhana, yang tak terpampang di pinggir jalan besar. Jalan-jalan ke Toraja Utara, sempatkanlah mampir ke kedai kopi Kaana Toraya Coffee. Saya sudah sejak lama menjadi penggemar kopi, tapi rasanya baru kali ini menemukan kasih mula-mula pada secangkir kopi. 

Perjalanan ekspedisi ke Toraja sungguh menyimpan kesan yang paling istimewa. Sampai jumpa lagi Toraja! 

Temukan kisah mereka selengkapnya di tayangan berikut:




Credits

Producer/director            : Bayu Noercahyo

Reporter/scriptwriter      : Marselina Tumundo

Camera person                : Deddy Utama

Drone                              : Leonard Lefkas

Production Assistant       : Weynand Simon

Editor                              : Dwi Septiansyah

Photographer                  : Usman Iskandar

Sunday, 22 November 2020

Bulukumba, Pesona Tanpa Batas!

Butta panrita lopi, begitulah julukan yang disematkan untuk tanah Bulukumba yang memiliki arti tanah pelaut ulung. Tak berlebihan memang, jika banyak penjelajah samudera yang handal lahir di tanah ini. Untuk mengarungi lautan samudera, mereka memiliki kapal layar yang tangguh yaitu kapal pinisi.

Pembuatan kapal pinisi memadukan sebuah keterampilan, sekaligus nilai kepercayaan. Hal ini lah yang membuat kapal pinisi diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, pada Desember 2017 silam.

Estetika dan kemegahan pinisi dapat menjadi magnet bagi para pembeli. Tak hanya datang dari dalam negeri, pemesanan pinisi pun merambah hingga ke level luar negeri. 

Kami bertemu dengan seorang ahli pembuat kapal pinisi bernama Al Fhiand. Dirinya menuturkan, akses jaringan internet sangat dibutuhkan olehnya sebagai media promosi, serta sarana komunikasi dalam pemesanan kapal pinisi secara daring.



Credits

 

Producer/director            : Bayu Noercahyo

Reporter/scriptwriter      : Marselina Tumundo

Camera person                : Deddy Utama

Drone                              : Leonard Lefkas

Production Assistant       : Weynand Simon

Editor                              : Dwi Septiansyah

Photographer                  : Usman Iskandar

Thursday, 12 November 2020

Kota Pintar CItra Makassar

Hampir semua kota di indonesia kini berlomba menuju smart city. Konsep kota pintar diyakini dapat menjadi solusi atas sederet masalah perkotaan di dalam negeri.

Berbagai transformasi di segala bidang pun dimaksimalkan setiap kota, dengan konsep utama yakni menyinergikan teknologi. Pun demikian dengan Makassar.

Kota Daeng berkomitmen untuk mendorong pembangunan perkotaan.

Saksikan selengkapnya di kanal Youtube Metro TV berikut ini.



Credits

Producer/director            : Bayu Noercahyo
Reporter/scriptwriter      : Marselina Tumundo
Camera person                : Deddy Utama
Drone                              : Leonard Lefkas
Production Assistant       : Weynand Simon
Editor                              : Dwi Septiansyah
Photographer                  : Usman Iskandar

Wednesday, 11 November 2020

BAKTI untuk Negeri, Ekspedisi Sulawesi

Pernahkah terpikir sebelumnya untuk menjelajahi sebuah pulau dalam kurun waktu 21 hari?

Kesempatan itu datang bahkan ketika saya tidak pernah membayangkannya sebelumnya. Tentu saya memiliki mimpi untuk dapat melihat dunia dari berbagai sudut pandang di setiap daerah, baik dalam maupun luar negeri. Dengan kata lain, setiap orang pasti suka jalan-jalan, termasuk saya. Perbedaannya, kali ini adalah untuk bekerja, sekaligus berplesir di sela-sela waktu yang memungkinkan.

Perjalanan menjelajahi Pulau Sulawesi itu terbingkai dalam program BAKTI untuk Negeri, Ekspedisi Sulawesi. 21 hari awalnya terdengar waktu yang cukup lama, tapi terasa seperti beberapa hari saja. Pulau Sulawesi sendiri terdiri dari enam provinsi, dan setiap provinsi terdiri dari belasan kota dan kabupaten. Jadi, 21 hari benar-benar seperti beberapa kedipan mata saja, yang syukurnya diselingi pemandangan indah lautan, gunung, dan kekayaan budaya bagian tengah Indonesia itu.

Singkatnya ekspedisi ini membawa kami ke empat kota dan kabupaten, dimulai dari Kota Makassar, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Toraja Utara, dan terakhir Kota Manado. 

Setiap tempat terangkum dalam satu episode program yang berdurasi 30 menit. Percayalah, bukan perkara mudah untuk menyajikan keunikan sebuah daerah hanya dalam waktu setengah jam. Kompleksitas kultur, kekayaan warisan budaya, dan peran masyarakatnya dalam bersumbangsih untuk negara tidak akan bisa didefinisikan oleh layar kami yang sangat terbatas. Akan tetapi, sedikit cuplikan dan kesaksian hidup dari setiap narasumber yang kami temui di lapangan, selayaknya manjur membuat setiap penonton mabuk dengan rasa penasaran untuk menyelami lebih dalam kekayaan tanah air.

Penting pula diingat bahwa ekspedisi ini mungkin tidak hadir di layar kaca atau peranti kita, tanpa adanya proses pra-produksi yang begitu menguras tenaga dan pikiran. Demi menghasilkan tayangan berdurasi 30 menit, setidaknya tim ekspedisi membutuhkan empat hari kerja untuk proses pengambilan gambar. Itu belum termasuk pitching ide serta proses editing video yang bisa memakan waktu total lebih dari satu minggu sampai suatu episode bisa dikatakan layak tayang. Terima kasih untuk rekan-rekan ekspedisi yang sudah rela berjibaku tanpa kata menyerah, meski di tengah perjalanan kerap menemukan kebuntuan atau kelelahan. 


Teaming up with you guys would be the best experience for my career journey!
Location: Kodingareng Keke Island, Makassar, South Sulawesi



Santai sejenak di tengah perjalanan enam jam Makassar-Bulukumba. Kami juga sempat menempuh perjalanan 13 jam dari Bulukumba-Tana Toraja. Bravo, team!



Bersama menjajaki goa mayat leluhur masyarakat Toraja.
Lokasi: Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan


Berburu matahari terbenam. Agenda wajib setiap petang.
Lokasi: Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan


Malam hari di Manado menjadi penutup perjalanan kami.
Lokasi: Jembatan Ir.Soekarno, Manado, Sulawesi Utara


Nantikan setiap tayangan BAKTI untuk Negeri, Ekspedisi Sulawesi di Metro TV.

Sampai jumpa di entry berikutnya tentang episode 1 Kota Pintar Citra Makassar . 

Saturday, 19 January 2019

Skatepark, Oase Baru di Kolong Slipi

Wajah kolong flyover  Slipi, Petamburan, Jakarta Barat, yang sebelumnya kumuh dan dipenuhi sampah, kini disulap menjadi arena bermain skateboard. Tiap sore, skatepark  tersebut dipenuhi anak-anak remaja penggila skateboard. 

Skatepark itu sejatinya sedang dalam tahap penyelesaian pembangunannya. DIbangun sejak POktober 2018 lalu, arena bermain itu kini tengah dipasangi lampu dan alat kelengkapan taman lainnya.

Ahyar, 10, merupakan satu dari belasan pengunjung skatepark. Ia mengaku hampir saban sore bermain di skatepark Slipi karena dekat dengan rumahnya. Bersama saudaranya, Fadel, 12, mereka terus mengasah kemampuan skating dari jam 3 sore hingga jam 5 sore.

Sebelum dibangunnya skatepark, Ahyar dan kebanyakan anak-anak sebayanya di wilayah Kemanggisan biasa bermain di jalan raya. Skatestreet, begitu istilah mereka.

Meski tak kalah menyenangkan, bermain skateboard di wahana aslinya jauh lebih menantang buat mereka. Begitu mengetahui adanya skatepark di kolong layang Slipi, mereka langsung menyerbu arena adu ketangkasan tersebut.

"Enggak cuma adu ketangkasanm di sini juga tempat adu nyali," kata Ahyar bersemangat.

Peluh di dahinya terus bercucuran. Tanpa alat pengaman seperti helm, sepatu, serta pelindung siku dan lutut, ia terus menjajal lintasan bowl, lintasan yang berbentuk cekungan seperti mangkuk.

Para skateboarder cilik itu mengaku baru setahun terakhir menjajaki olahraga asal Amerika Serikat tersebut. Mereka harus menabung untuk bisa membeli sebuah skateboard seharga Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu.

Selain arena bowl, di taman Slipi juga terdapat arena half pipe rail. Alhasil, tak hanya para skateboarders, para pemain sepeda BMX juga ikut menikmati taman tersebut.

Karena berada di kolong flyover, pengunjung tetap dapat beraktivitas meski turun hujan. Suasana semakin asri dengan adanya tanaman di beberapa sudut. 

"Terima kasih buat pemerintah yang sudah menyediakan arena bermain ini. Kalau bisa di sini juga dibangun lapangan futsal," harap anak-anak itu.

Skatepark  Slipi berada persis di kolong Tol Cawang-Grogol dan jembatan layang yang menghubungkan Jalan S Parman dan Jalan Gatot Subroto.

Pengerjaan skatepark saat ini terus dikebut hingga rampung. Selain tempat sampah yang sudah tersedia, sejumlah lampu penerangan juga sedang dupasang petugas. Sarana toilet umum juga belum dibangun.

Reporter: Marselina Tabita
Editor: Mirza

Dimuat pada Harian Media Indonesia Sabtu, 19 Januari 2019