GET TO KNOW ME!
Get to Know Me
Marselina Tabita Tumundo is a full-time TV journalist, working in the pioneer of news television channel in the country, Metro TV. Fun fact,...
Monday, 8 February 2021
Sewaktu ke Kalimantan Selatan
Sunday, 10 January 2021
Bakudapa Kawanua Sulut
Ekspedisi kami telah sampai di bagian akhir. Pada episode Bakudapa Kawanua Sulut, kami tidak hanya bertandang ke Kota Manado, tapi juga berkesempatan mengunjungi Kota Bitung dan Kota Tomohon.
Kami memulai perjalanan dari Kota Bitung. Secara geografis, kota bitung berada di titik kilometer nol ujung belalai Pulau Sulawesi. Posisi strategis bitung yang menghadap kawasan Asia Pasifik, menjadikan Kota Bitung sebagai kawasan pelabuhan perikanan terbesar yang berada di utara Pulau Sulawesi.
Selain itu, tim ekspedisi juga mengunjungi daerah dataran tinggi Sulawesi Utara, yakni Kota Tomohon. Di sini, kami melihat pemanfaatan internet bagi para petani kembang untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Perjalanan ekspedisi kami akhiri di Kota
Manado, untuk melihat salah satu site Palapa Ring paket tengah. Palapa Ring paket tengah merupakan salah
satu proyek strategis pemerintah berupa jaringan interkoneksi bawah laut yang
berada di wilayah tengah Indonesia.
===
Berada di Sulawesi Utara terasa terlalu familiar. Di sinilah nenek moyang saya dilahirkan. Namun, seribu sayang, pengenalan saya akan tanah kawanua memang tidak begitu dalam. Tentu ekspedisi ini sekaligus memberikan kesempatan bagi saya untuk temu kangen dengan keramahan budaya yang tidak pernah asing di bawah alam sadar ini.
Saksikan tayangan Bakudapa Kawanua Sulut selengkapnya:
Credits:
Producer/director
: Bayu Noercahyo
Reporter/scriptwriter
: Marselina Tumundo
Camera person
: Deddy Utama
Drone
: Leonard Lefkas
Production Assistant
: Weynand Simon
Editor
: Dwi Septiansyah
Photographer
: Usman
Iskandar
Sunday, 13 December 2020
Titik Peradaban Budaya Toraja
“Saya ingin Toraja lebih dikenal seperti Bali. Memang Toraja sudah dikenal tetapi kita masih dikenal dari budaya kematian, itu saja.”
Tak pernah menyangka bisa mengenal Endy Allorante, seorang fotografer keturunan asli Toraja. Rumahnya bahkan masih berada dalam satu komplek desa adat Kete Kesu, Toraja Utara. Itu menunjukkan bahwa si penghuni masuk dalam garis keturunan tokoh adat Toraja yang sangat disegani.
Memeluk erat budaya leluhur bukan berarti menutup diri dari dunia yang begitu luas. Endy pun memilih untuk tidak berdiam diri. Berbekal lensa kamera dan kemampuan persuasifnya untuk mengumpulkan para pencinta fotografi di Toraja, ia menghasilkan gambar-gambar yang berbicara tentang budaya Toraja.
Lain cerita ketika saya berjumpa dengan Layuk Sarungallo. Ia adalah seorang ketua adat Kete Kesu. Namun, bagi saya, pertemuan yang mungkin hanya sekali seumur hidup itu, seperti perjumpaan seorang keponakan dan paman yang sudah lama tidak bertemu. Keponakan itu sangat terkagum ketika mendengar si paman bercerita tentang perjuangannya mempertahankan prinsip hidup serta warisan dari generasi ke generasi. Filosofi hidupnya sebagai orang gunung begitu terpancang kuat, melebihi kekuatan beton-beton pencakar langit di kota besar.
Satu hal lagi yang tak terlupakan dari perjalanan ini adalah ketika menghirup kopi Toraja di sebuah kedai sederhana, yang tak terpampang di pinggir jalan besar. Jalan-jalan ke Toraja Utara, sempatkanlah mampir ke kedai kopi Kaana Toraya Coffee. Saya sudah sejak lama menjadi penggemar kopi, tapi rasanya baru kali ini menemukan kasih mula-mula pada secangkir kopi.
Perjalanan ekspedisi ke Toraja sungguh menyimpan kesan yang paling istimewa. Sampai jumpa lagi Toraja!
Temukan kisah mereka selengkapnya di tayangan berikut:
Credits
Producer/director
: Bayu Noercahyo
Reporter/scriptwriter
: Marselina Tumundo
Camera person
: Deddy Utama
Drone
: Leonard Lefkas
Production Assistant
: Weynand Simon
Editor
: Dwi Septiansyah
Photographer
: Usman
Iskandar
Sunday, 22 November 2020
Bulukumba, Pesona Tanpa Batas!
Butta panrita lopi, begitulah julukan yang disematkan untuk tanah Bulukumba yang memiliki arti tanah pelaut ulung. Tak berlebihan memang, jika banyak penjelajah samudera yang handal lahir di tanah ini. Untuk mengarungi lautan samudera, mereka memiliki kapal layar yang tangguh yaitu kapal pinisi.
Pembuatan kapal pinisi memadukan sebuah keterampilan, sekaligus nilai kepercayaan. Hal ini lah yang membuat kapal pinisi diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco, pada Desember 2017 silam.
Estetika dan kemegahan pinisi dapat menjadi magnet bagi para pembeli. Tak hanya datang dari dalam negeri, pemesanan pinisi pun merambah hingga ke level luar negeri.
Kami bertemu dengan seorang ahli pembuat kapal pinisi bernama Al Fhiand. Dirinya menuturkan, akses jaringan internet sangat dibutuhkan olehnya sebagai media promosi, serta sarana komunikasi dalam pemesanan kapal pinisi secara daring.
Credits
Producer/director
: Bayu Noercahyo
Reporter/scriptwriter
: Marselina Tumundo
Camera person
: Deddy Utama
Drone
: Leonard Lefkas
Production Assistant
: Weynand Simon
Editor
: Dwi Septiansyah
Photographer
: Usman
Iskandar
Thursday, 12 November 2020
Kota Pintar CItra Makassar
Berbagai transformasi di segala bidang pun dimaksimalkan setiap kota, dengan konsep utama yakni menyinergikan teknologi. Pun demikian dengan Makassar.
Kota Daeng berkomitmen untuk mendorong pembangunan perkotaan.




